Apa itu Stunting?
Stunting yang dikenal sebagai kerdil atau pendek, adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita). Ini terjadi karena kekurangan gizi dan infeksi berulang selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Stunting dapat dikenali dari tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya berdasarkan standar WHO. Namun, dampaknya tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga pada perkembangan otak, kecerdasan, imunitas tubuh dan kualitas hidup anak di masa depan.
Di Indonesia, stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar, sehingga pemahaman tentang penyebab, perbedaan dengan kondisi gizi lainnya, serta cara diagnosis dokter sangat penting bagi orang tua, pendidik, dan tenaga kesehatan.
Faktor Penyebab Stunting:
Kekurangan nutrisi sejak kehamilan
Bayi yang sejak dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi memadai (protein, zat besi, asam folat, dan nutrisi mikro lainnya) memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting.ASI eksklusif tidak optimal
ASI adalah sumber nutrisi terbaik yang mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, dan antibodi alami.MPASI kurang padat nutrisi
Kesalahan umum orang tua adalah memberikan MPASI yang membuat anak kenyang, tetapi tidak kaya nutrisi, terutama protein hewani.Infeksi berulang seperti diare atau ISPA
Infeksi menyebabkan tubuh sulit menyerap nutrisi dan meningkatkan risiko wasting serta stunting.Lingkungan tidak higienis
Sanitasi yang buruk meningkatkan risiko penyakit, termasuk infeksi pencernaan.Kurangnya stimulasi perkembangan
Selain nutrisi, stimulasi mental juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak.
Stunting tidak terjadi dalam semalam. Kondisi ini berkembang perlahan karena kekurangan nutrisi kronis, sehingga pencegahannya harus dimulai dari masa kehamilan hingga usia 2 tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan).
Perbedaan Stunting vs Wasting vs Underweight
Masih banyak orang tua yang mengira stunting, wasting, dan underweight adalah kondisi yang sama. Padahal, ketiganya memiliki perbedaan mendasar.
1. Stunting (pendek akibat kekurangan gizi kronis)
Terjadi dalam jangka panjang.
Anak tidak tumbuh setinggi anak seusianya.
Indikator utama: Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) rendah.
Penyebab: kekurangan nutrisi bertahun-tahun, infeksi berulang, atau buruknya pola asuh gizi.
2. Wasting (sangat kurus akibat kekurangan gizi akut)
Terjadi dalam waktu singkat.
Ditandai tubuh sangat kurus dan kehilangan massa otot.
Indikator utama: Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) rendah.
Penyebab: penyakit akut atau penurunan asupan makanan mendadak.
3. Underweight (berat badan kurang menurut usia)
Bisa disebabkan stunting, wasting, atau keduanya.
Indikator utama: Berat Badan menurut Umur (BB/U) rendah.
Memahami perbedaan ini membantu orang tua mengenali masalah sejak dini dan menentukan langkah tepat untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan anak.
Bagaimana Cara Dokter Mendiagnosis Stunting?
Diagnosis stunting harus dilakukan menggunakan pemeriksaan klinis dan antropometri yang akurat. Dokter tidak bisa hanya melihat sekilas karena setiap anak memiliki variasi pertumbuhan yang berbeda.
1. Pengukuran Antropometri Lengkap
Dokter mengukur:
Tinggi atau panjang badan
Berat badan
Lingkar kepala
Indeks TB/U, BB/U, dan BB/TB
Hasil akan dibandingkan dengan kurva pertumbuhan WHO.
Jika skor TB/U berada di bawah -2 SD → anak berisiko stunting.
Jika di bawah -3 SD → stunting berat.
2. Riwayat Nutrisi Anak
Dokter menilai:
Pola makan harian
Asupan nutrisi makro dan mikro
Riwayat ASI eksklusif
Jenis dan frekuensi MPASI
Kualitas nutrisi, khususnya protein hewani, zat besi, zinc, dan vitamin A
Kekurangan nutrisi ini adalah faktor terbesar penyebab stunting.
3. Riwayat Kehamilan & Kelahiran
Dokter akan mempertimbangkan:
Nutrisi ibu selama hamil
Riwayat anemia ibu
Pemeriksaan kehamilan
Berat badan lahir bayi
Bayi lahir kecil (BBLR) juga berisiko stunting.
4. Riwayat Penyakit & Infeksi
Infeksi berulang, terutama diare, ISPA, dan cacingan, dapat menghambat penyerapan nutrisi. Karena itu, dokter menilai:
Frekuensi sakit dalam 6–12 bulan
Riwayat alergi atau intoleransi makanan
Kondisi pencernaan seperti GERD atau malabsorpsi
5. Pemeriksaan Laboratorium Bila Diperlukan
Tes tambahan dapat meliputi:
Hemoglobin (anemia)
Serum ferritin (cadangan zat besi)
Kadar zinc
Vitamin D
CRP atau tanda inflamasi
Hasil ini membantu dokter menentukan intervensi nutrisi yang tepat.
Sumber:
Astiana, dkk. 2021. Mengenal Stunting Lebih Dekat - Link
Onis, Mercedes dan Francesco Branca. 2025. Childhood Stunting: A Global Perspective - Link
Stunting in a nutshell. Retrieved on Dec 10, 2025, from - Link
Childhood stunting: a global perspective - PMC. Retrieved on Dec 10, 2025, from - Link