Dampak Stunting Terhadap Perkembangan Otak

https://nutrimax.co.id/storage/img/article/dampak-stunting-terhadap-perembangan-otak.webp
January 13, 2026 - Tim Nutrimax

Malnutrisi memiliki konsekuensi negatif dalam hal infeksi dan disabilitas, perkembangan otak, pencapaian pendidikan dan potensi pendapatan individu dan komunitas. Nutrisi yang adekuat merupakan faktor inklusif dalam pertumbuhan dan perkembangan normal. Defisiensi nutrisi merusak perkembangan neural anak dengan sangat serius, sehingga menurunkan IQ dan proses belajar. Kualitas nutrisi yang rendah sangat merusak perkembangan kognitif seperti proses belajar, pemecahan masalah (problem solving) dan daya ingat. Malnutrisi di awal kehidupan mempengaruhi daya lihat, kemampuan motorik, kemampuan bahasa dan sosial serta sangat berpengaruh pada usia dewasa seseorang.

Berdasarkan data World Bank Group (2018), 30% anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang terdiagnosis stunting, artinya tinggi menurut umur rendah karena malnutrisi kronis berulang. Dalam segi akademik dan pendidikan, stunting memengaruhi:

  • Keterlambatan dalam sekolah

    Stunting yang terjadi selama masa kehamilan dan selama usia dua tahun berhubungan dengan keterlambatan anak dalam memasuki usia sekolah, meskipun beberapa usaha penanggulangan setelah usia dua tahun telah dilakukan. Anak stunting sangat sensitif terhadap penyakit dan infeksi, sehingga sering tidak masuk sekolah dan tertinggal pelajaran.

  • Rendahnya performa akademik

    Stunting berhubungan dengan rendahnya perkembangan kognitif anak, sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam menerima pelajaran dari segi kemampuan literasi. Kemampuan matematika anak stunting 7% menurun daripada anak normal, 12% kemampuan menulis kalimat sederhana baru dapat dilakukan di usia 8 tahun. Anak stunting dengan kerusakan performa belajar mengalami kesulitan menyelesaikan pendidikannya. Hal ini menyebabkan penurunan pendapatan individu dan potensi produktivitas nasional.

  • Masalah perilaku

    Kekurangan nutrisi mempengaruhi perilaku anak-anak SD. Ketika anak tidak sarapan, maka mempengaruhi perilaku dan performa akademis. Anak-anak yang kelaparan memiliki kesulitan dalam hal belajar. Kerja otak menjadi dasar semua perilaku manusia, dari kerja sederhana seperti berjalan atau makan hingga kerja kompleks seperti berpikir, berinteraksi dengan sesama atau menciptakan kerja. Perkembangan dan kematangan otak yang tepat dibutuhkan untuk memperoleh fungsi integrasi dan perilaku manusia. Otak melakukan semua fungsi integrasi ini melalui sekitar 1 miliar sel yang saling berkomunikasi satu sama lain melalui interkoneksi khusus, disebut sinapsis.

Hubungan Stunting dengan Kecerdasan dan Produktivitas

Menurut World Health Organization, stunting dapat menyebabkan perkembangan kognitif atau kecerdasan, motorik, dan verbal berkembang secara tidak optimal, peningkatan risiko obesitas dan penyakit degeneratif lainnya, peningkatan biaya kesehatan, serta peningkatan kejadian kesakitan dan kematian. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal akibat stunting pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan di suatu negara. 

Perkembangan kognitif merupakan aspek yang berfokus pada keterampilan berpikir, termasuk belajar, pemecahan masalah, rasional, dan mengingat yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa di sekolah. Berdasarkan penelitian oleh Solihin (2013) melalui uji korelasi diketahui bahwa tinggi badan balita menurut umur (TB/U) berhubungan positif dengan tingkat perkembangan kognitif, dimana diperoleh r sebesar 0.272 dan p-value sebesar 0.020. Penelitian ini menyatakan bahwa balita yang lebih tinggi memiliki tingkat perkembangan kognitif yang semakin tinggi. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk meninjau pengaruh stunting terhadap perkembangan kognitif dan prestasi belajar. 

Meskipun terdapat sedikit tindak lanjut penelitian sejak masa anak-anak hingga usia dewasa, bukti substansial menunjukkan adanya hubungan antara stunting dengan kemampuan kognitif yang lambat atau kinerja sekolah pada anak-anak dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sebuah analisis data longitudinal dari Filipina, Jamaika, Peru, dan Indonesia, bersama dengan data baru dari Brazil dan Afrika Selatan, menunjukkan bahwa anak stunting berusia 12-36 bulan diperkirakan mengalami kinerja kognitif yang lebih rendah dan atau nilai yang dicapai di sekolah menjadi lebih rendah.

Dampak Jangka Panjang Stunting pada Masa Dewasa

Selain memengaruhi masa emas pertumbuhan, dampak stunting disinyalir dapat berlanjut hingga dewasa.

Dampak stunting bisa bersifat jangka pendek dan jangka panjang.

Dampak jangka pendek, misalnya pertumbuhan dan perkembangan anak yang terhambat.

Namun, stunting yang tidak ditangani dengan tepat memiliki dampak jangka panjang, yaitu:

1. Rentan terkena penyakit menular

Rentan terkena penyakit menular ketika dewasa adalah salah satu dampak stunting jangka panjang.

Penyakit menular tersebut adalah hipertensi, penyakit jantung, dan obesitas.

Meski demikian, hingga saat ini, masih diteliti kaitan antara stunting dan penyakit tidak menular.

2. Gangguan kognitif

Tidak hanya mengganggu pertumbuhan dan perkembangan fisik, stunting juga memengaruhi kemampuan otak atau kognitif anak.

Hal ini memicu lebih rendahnya kemampuan kognitif anak penderita stunting dibandingkan anak yang tidak stunting.

Oleh karena itu, stunting kerap dikaitkan dengan penurunan kecerdasan di sekolah.

3. Kesulitan belajar

Terganggunya kemampuan kognitif memicu penurunan fokus dan konsentrasi, sehingga anak penderita stunting menjadi kesulitan belajar.

Penelitian juga menunjukkan bahwa, stunting menghambat kemampuan fokus dan konsentrasi anak, sehingga mengganggu prestasi akademis mereka.

4. Daya tahan tubuh yang lemah

Stunting dipicu oleh malnutrisi kronis.

Malnutrisi jangka panjang bisa mengganggu daya tahan tubuh, sehingga anak rentan terkena penyakit kronis.

Jika asupan gizi tidak tercukupi terus-menerus, keadaan ini bisa memburuk.

5. Produktivitas menurun

Produktivitas yang menurun ketika dewasa juga merupakan dampak stunting jangka panjang.

Orang dewasa yang pernah mengidap stunting, berisiko tidak produktif atau tidak optimal di tempat kerja.

Keadaan ini tidak dialami orang dewasa yang tidak mengidap stunting ketika masih anak-anak.

Mencegah Stunting

Diakibatkan oleh asupan gizi yang kurang, mencegah Stunting tentu dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan gizi yang sesuai. Pada usia 1.000 hari pertama kehidupan, asupan nutrisi yang baik sangat dianjurkan dikonsumsi oleh ibu hamil. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dirinya, asupan nutrisi yang baik juga dibutuhkan jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Lebih lanjut, pada saat bayi telah lahir, penelitian untuk mencegah Stunting menunjukkan bahwa, konsumsi protein sangat mempengaruhi pertambahan tinggi dan berat badan anak di atas 6 bulan. Anak yang mendapat asupan protein 15 persen dari total asupan kalori yang dibutuhkan, terbukti memiliki badan lebih tinggi dibanding anak dengan asupan protein 7,5 persen dari total asupan kalori. Anak usia 6 sampai 12 bulan dianjurkan mengonsumsi protein harian sebanyak 1,2 g/kg berat badan. Sementara, anak usia 1 – 3 tahun membutuhkan protein harian sebesar 1,05 g/kg berat badan. Jadi, pastikan Si kecil mendapat asupan protein yang cukup sejak ia pertama kali mencicipi makanan padat pertamanya.


Sumber:

Unair News. 2020. Stunting Mempengaruhi Kecerdasan Otak - Link

Adilla Dwi Nur Yadika, dkk. 2019. Pengaruh Stunting terhadap Perkembangan Kognitif dan Prestasi Belajar - Link

GridHealth.id.  2023. Dampak Stunting Saat Anak Dewasa: Implikasi Jangka Panjang, Kualitas Hidup - Link


Loading...
Please wait ...
whatsapp