Puasa Picu Autofagi, Proses Alami yang Baik untuk Kesehatan Sel

https://nutrimax.co.id/storage/img/article/puasa-picu-autofagi-proses-alami-yang-baik-untuk-kesehatan-sel.webp
March 10, 2026 - Tim Nutrimax

Tubuh manusia terdiri dari triliunan sel yang terus bekerja menjaga berbagai fungsi kehidupan. Namun, seiring waktu, sebagian sel dapat mengalami kerusakan dan penurunan fungsi. Jika sel-sel yang rusak ini terus menumpuk, kondisi tersebut dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Untungnya, tubuh memiliki mekanisme alami untuk membersihkan dan memperbarui sel.

Salah satu mekanisme penting tersebut adalah autofagi, yaitu proses biologis yang berperan dalam membersihkan serta mendaur ulang komponen sel yang rusak. Melalui proses ini, sel-sel tubuh dapat kembali berfungsi secara optimal sehingga membantu menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit kronis.

Dalam beberapa tahun terakhir, autofagi semakin banyak diteliti karena perannya yang erat dengan metabolisme, proses penuaan, serta berbagai penyakit kronis. Mekanisme ini juga menjadi menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan pola hidup sehat, termasuk praktik puasa.

 

Apa itu Autofagi?

Autofagi berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata “auto” (diri sendiri) dan “phagy” (memakan). Artinya, sel di dalam tubuh kita memiliki kemampuan untuk membersihkan dan menghancurkan bagian-bagian yang sudah rusak atau tidak terpakai. Proses ini dilakukan dengan bantuan bagian khusus di dalam sel yang disebut lisosom, yang berfungsi sebagai “mesin pembersih”. Bagian sel yang rusak akan dihancurkan, lalu hasilnya didaur ulang menjadi energi atau bahan untuk membentuk sel yang baru. Dengan cara ini, sel akan tetap bersih, sehat, dan bekerja dengan baik.

Kapan Autofagi Terjadi?

Autofagi sering diibaratkan sebagai “tombol reset” bagi sel-sel tubuh karena berperan dalam meregenerasi dan memperbarui komponen sel yang rusak. Menariknya, proses ini tidak terjadi ketika sel berada dalam kondisi “kenyang”, melainkan saat sel mengalami kondisi “kelaparan”. Dalam keadaan tersebut, sel memicu mekanisme adaptasi dengan memanfaatkan dan mendaur ulang protein dari komponen sel yang rusak sebagai sumber energi.

Dengan demikian, autofagi umumnya terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan nutrisi, energi, atau oksigen. Kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa keadaan, seperti berpuasa, membatasi asupan kalori, menjalani diet tertentu seperti diet keto, maupun melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.

 

Mekanisme Autofagi di dalam Tubuh

Autofagi terjadi melalui beberapa tahapan yang berjalan secara teratur di dalam sel. Proses ini diatur oleh sensor khusus yang memantau kondisi energi dan nutrisi tubuh. Ada 3 pengatur utama dalam proses ini, yaitu AMPk, mTOR, dan SIRT1.

  • AMPK aktif ketika energi tubuh rendah, misalnya saat berpuasa, dan berperan memicu proses autofagi.

  • mTOR bekerja sebaliknya. Ketika nutrisi dan energi tubuh cukup, mTOR akan menghambat terjadinya autofagi.

  • SIRT1 membantu sel beradaptasi saat kekurangan energi serta mendukung berlangsungnya proses autofagi.

Tahapan proses autofagi adalah sebagai berikut:

  1. Inisiasi
    Tahap ini dimulai ketika sel mendeteksi adanya gangguan, seperti kelaparan, kekurangan energi, kekurangan oksigen, atau stres akibat radikal bebas. Kondisi tersebut memicu sinyal dalam sel untuk memulai proses pembersihan dan daur ulang komponen sel yang rusak.

  2. Pembentukan Autofagosom

    Pada tahap ini, sel membentuk kantong membran yang disebut autofagosom. Struktur ini berfungsi mengumpulkan dan membungkus komponen sel yang rusak, seperti protein atau bagian sel lainnya, sehingga dapat diproses lebih lanjut tanpa mengganggu bagian sel yang masih sehat.

  3. Fusi dengan Lisosom

    Autofagosom kemudian menyatu dengan lisosom, yaitu organel sel yang mengandung enzim pencernaan. Enzim tersebut akan menguraikan komponen sel yang rusak menjadi molekul yang lebih sederhana.

  4. Degradasi dan Daur Ulang

    Pada tahap ini, komponen sel yang telah diuraikan diubah menjadi molekul sederhana seperti asam amino, asam lemak, dan molekul penghasil energi. Zat-zat tersebut kemudian digunakan kembali oleh sel sebagai sumber energi atau bahan pembentuk komponen sel baru.

Manfaat Autofagi Bagi Kesehatan

  1. Menjaga Kesehatan dan Keseimbangan Sel

    Autofagi berperan menjaga sel tetap sehat dengan cara membersihkan protein dan bagian sel yang rusak. Proses ini membuat kondisi di dalam sel tetap seimbang sehingga sel bisa bekerja dengan baik.

  2. Membantu Sel Bertahan Saat Kekurangan Energi

    Saat tubuh kekurangan energi, misalnya ketika berpuasa, berolahraga, atau mengurangi kalori, autofagi dapat membantu sel beradaptasi. Caranya dengan mendaur ulang bagian dalam sel untuk dijadikan sumber energi dan bahan penting lainnya.

  3. Berperan dalam Imunitas Tubuh

    Xenofagi adalah mekanisme pertahanan sel yang menggunakan sistem autofagi untuk mengenali, menargetkan dan menghancurkan bakteri, virus dan jamur yang masuk kedalam sitoplasma sel. Mekanisme ini membantu tubuh terhindar dari penyakit dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan virus.

  4. Melindungi dari Penyakit Degeneratif

    Pembersihan organel sel membantu menjaga fungsi organel sel seperti mitokondria. Autofagi membantu menurunkan stres oksidatif dan peradangan kronis yang menjadi penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan metabolik, kanker dan penyakit neurodegeneratif.

  5. Mengatur Apoptosis Sel

    Autofagi juga membantu mengatur kapan sel harus bertahan dan kapan sel harus mengalami kematian (apoptosis). Dalam kondisi normal, autofagi melindungi sel dan mencegah apoptosis. Namun, bila kerusakan sel terlalu parah atau energi sel kurang dari 50%, autofagi akan membantu terjadinya apoptosis agar tidak membahayakan sel lain disekitarnya.

  6. Berpotensi Sebagai Terapi Penyakit Kronis

    Autofagi yang tidak berjalan dengan baik sering dikaitkan sebagai salah satu faktor penyebab utama penyakit kronis. Oleh karena itu, penting untuk menjaga autofagi tetap optimal untuk membantu membersihkan penumpukan zat yang merusak sel, mengurangi peradangan, dan menjaga keseimbangan energi di dalam tubuh.

Faktor Yang Mengaktifkan Autofagi

  • Puasa dan Pembatasan Kalori

    Puasa atau mengurangi asupan kalori dapat meningkatkan proses autofagi. Saat asupan makanan berkurang, kadar insulin menurun dan sel mengalami kekurangan energi. Kondisi ini memicu sel untuk mendaur ulang komponen yang rusak dan mengubahnya menjadi sumber energi serta bahan penting seperti asam amino dan asam lemak.

  • Aktivitas Fisik

    Olahraga meningkatkan kebutuhan energi tubuh, terutama pada otot. Kondisi ini merangsang sel untuk mengaktifkan mekanisme perbaikan diri, termasuk autofagi, yang membantu membersihkan dan memperbarui komponen sel yang rusak.

  • Stres Sel Ringan (hormesis)

    Stres ringan, seperti sedikit kekurangan energi atau gangguan metabolisme ringan, dapat merangsang autofagi. Kondisi ini membantu sel beradaptasi dan memperkuat kemampuan perbaikan diri. Namun, stres yang terlalu berat justru dapat merusak sel.

  • Tidur dan jam biologis tubuh

    Proses autofagi juga dipengaruhi oleh pola tidur. Saat tidur, tubuh tidak menerima asupan makanan sehingga kadar insulin menurun dan autofagi dapat berlangsung lebih optimal. Selain itu, hormon melatonin yang diproduksi pada malam hari membantu mengatur proses ini. Sebaliknya, kurang tidur atau pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu autofagi.

  • Peran nutrisi

    Beberapa nutrisi mendukung proses autofagi, seperti asam lemak tak jenuh, vitamin, dan mineral yang membantu sel beradaptasi saat energi berkurang. Senyawa bioaktif tertentu, seperti kurkumin, juga diketahui dapat membantu mengaktifkan autofagi di dalam sel.

Suplementasi Pendukung Jalur Autofagi

Suplemen dapat mendukung jalur autofagi, meski bukan menjadi pemicu utama proses ini. Berikut beberapa jenis suplementasi yang diketahui membantu mendukung terjadinya autofagi dalam tubuh:

  1. Nutrimax CoEnzyme Q-10

    Karena autofagi adalah proses aktif yang membutuhkan energi, sel yang memiliki fungsi mitokondria baik dan energi cukup akan lebih mampu menjalankan proses pembersihan dan perbaikan diri secara optimal. Jika mitokondria sehat maka autofagi mitokondria lebih optimal, sehingga perbaikan sel lebih efisien. Nutrimax Chewable Coenzyme Q-10 menggunakan Sol Q10 Blue™ yang bersifat larut dalam air dan memiliki bioavailabilitas minimum 2,5 kali lipat dari Coenzyme Q-10 biasa. Bermanfaat untuk mengoptimalkan suplai oksigen ke seluruh jaringan tubuh guna membantu produksi energi tubuh agar vitalitas meningkat dan mampu atasi kelelahan kronis. Beli di sini.

  2. Nutrimax Glutoxidant

    Nutrimax Glutoxidant mengandung S-Acetyl-Glutathione (Emothion®), Selenium (from Selohvita), Calcium Ascorbate, Natural Vitamin E, Vitamin B2, Standardized Silymarin Extract 80%, OptiZinc®, Beta Carotene dan Standardized Grape Seed Extract 95%. Kandungan Glutathione membantu menjaga stabilitas sel saat terjadi stres oksidatif, yang pada tingkat ringan justru dapat memicu autofagi sebagai mekanisme perbaikan sel. Vitamin E mendukung pembentukan autofagosom, komponen penting dalam proses autofagi. Sementara itu, Grape Seed Extract mengaktifkan jalur sinyal sel yang berperan dalam perlindungan dan perbaikan, sekaligus menjaga keseimbangan antara autofagi dan apoptosis. Beli di sini.

  3. Nutrimax Omega 3 Pro

    Nutrimax Omgega 3 Pro mengandung EPA dan DHA dengan kadar yang lebih tinggi dibandingkan suplemen omega-3 lainnya. Kedua asam lemak ini membantu mengatur “sensor nutrisi” sel, termasuk mTOR, yang menandakan kecukupan nutrisi dan bila aktif dapat menekan autofagi. EPA dan DHA menekan aktivitas mTOR sehingga proses autofagi dapat berjalan optimal. Selain itu, keduanya mendukung aktivasi AMPk, sinyal yang aktif saat energi tubuh rendah dan berperan memicu autofagi. Melalui mekanisme ini, omega-3 berkontribusi pada keseimbangan dan kesehatan sel. Beli di sini.

  4. Nutrimax B Complex

    Nutrimax B Complex mengandung semua jenis vitamin B (B1, B2, B3, B5, B6, B7, B8, B9, B12) dengan rasio seimbang untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Vitamin B3 mendukung pembentukan NAD+, zat penting bagi kerja enzim SIRT1, yang kemudian mengaktifkan AMPk untuk memicu autofagi. Vitamin B6 membantu mengatur jalur mTOR, “sensor nutrisi” yang jika terlalu aktif dapat menghambat autofagi. Dengan asupan vitamin B yang cukup, tubuh dapat menjaga metabolisme energi tetap optimal sekaligus mendukung proses autofagi secara alami. Beli di sini. 

Sumber:

Desideri, E., et al., 2014. Glutathione participates in the modulation of starvation-induced autophagy in carcinoma cells - Link

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. 2025. Apa itu Autofagi? Ketahui Manfaatnya - Link

Juan p. Liuzzi., et al., 2014. Zinc and Autophagy. National Institutes of Health - Link

L. McGillis, et al., 2021. Vitamin D Deficiency Enhances Expression of Autophagy-Regulating Mir-142-3p in Mouse - Link

Li, M., Li, Z., and Fan, Y., 2025. Omega-3 Fatty Acids: Multi-Target Mechanisms And Therapeutic Applications - Link 

ShiZou, et al. 2023. Autophagy: Regulator of cell death. CDD Press, pp. 1 – 17 - Link

Yang, Y., 2025. Fasting and Autophagy and Its Effect on Health - Link

Zhang, Yu., et al., 2023. Vitamin B3 inhibits apoptosis and promotes autophagy of islet β cells under high glucose stress. Tech Science Press -Link

Zhu, Y., and Bu, S., 2017. Curcumin Induces Autophagy, Apoptosis, and Cell Cycle Arrest in Human Pancreatic Cancer Cells - Link

Loading...
Please wait ...
whatsapp