5 Pesan Positif American Dietary Guideline. Apakah Bisa diterapkan di Indonesia?
Baru-baru ini, USDA (United States Department of Agriculture) mengeluarkan pedoman gizi terbaru untuk masyarakat Amerika. Perubahan pedoman gizi tersebut dilatarbelakangi pada tingginya beban biaya kesehatan di negara tersebut. Hampir 90% anggaran perawatan kesehatan dialokasikan untuk menangani penyakit-penyakit kronis yang sebagian besar disebabkan karena pola makan dan gaya hidup sedentari.
Masalah obesitas menjadi salah satu perhatian utama. Lebih dari 70% orang dewasa di Amerika mengalami obesitas. Tentunya ini dapat memicu berbagai macam penyakit seperti penyakit kardiovaskular, Diabetes mellitus type 2. Bahkan saat ini diabetes tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan, dengan 1 dari 3 remaja di Amerika mengalami prediabetes.
Sementara itu, Indonesia menghadapi tantangan kesehatan yang berbeda, yaitu double burden of disease. Di satu sisi, kasus obesitas terus meningkat tetapi masalah kekurangan gizi masih terjadi di masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023, prevalensi obesitas pada usia dewasa (>18 tahun) mencapai 23,4%, sementara kegemukan 14,45%. Pada saat yang sama, 7,8% mengalami wasting & 21,5% anak mengalami stunting.
Kondisi ini semakin kompleks dengan meningkatnya penyakit tidak menular. Kasus diabetes pada remaja dan dewasa muda cukup tinggi mencapai 7,1% dengan mayoritas kasus merupakan DM Tipe 2 yang berkaitan erat dengan gaya hidup. Situasi tersebut diperparah oleh masih tingginya penyakit infeksi di Indonesia seperti campak, DBD, ISPA, dan diare. Perbedaan masalah gizi dan kesehatan ini menyebabkan setiap negara memiliki pedoman gizi yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi dan tantangan masing-masing negara.
Pola Makan Orang Amerika vs Indonesia
Pola makan masyarakat Amerika didominasi oleh karbohidrat olahan seperti roti & pasta, serta makanan ultra-proses. Jenis makanan ini cenderung tinggi kalori, tinggi natrium, lemak jenuh, gula, namun rendah vitamin & mineral. Akses yang mudah ke restoran cepat saji serta harga makanan kemasan yang lebih terjangkau dibandingkan bahan pangan segar membuat pola makan praktis semakin sulit dihindari.
Sedangkan pola makan masyarakat Indonesia cenderung berbasis nasi dengan lauk pauk dari sumber nabati maupun hewani yang memiliki cita rasa rempah-rempah khas Indonesia. Namun, konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Sebanyak 96,7% penduduk Indonesia belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah, dengan angka tertinggi pada kelompok anak-anak dan remaja.
Sebaliknya, konsumsi makanan berisiko masih tergolong tinggi. Masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis, minuman bersoda, makanan ultra proses seperti mie instan. Pola konsumsi ini paling banyak ditemukan pada remaja usia 10-19 tahun. Tingginya konsumsi makanan tersebut tidak terlepas dari rasanya yang dianggap lebih enak, mudah didapatkan dengan harga yang murah.
Di sisi lain, pola konsumsi protein orang Indonesia masih dikatakan rendah baik dari segi jumlah maupun kualitas dengan kecenderungan memilih produk olahan protein. Kondisi ini berpotensi memperburuk status gizi dan kesehatan jangka panjang.
5 Pesan Positif American Dietary Guideline
American Dietary Guideline merupakan panduan makan bagi masyarakat Amerika yang digambarkan dalam sebuah piramida terbalik. Pedoman ini menekankan perubahan pola makan ke arah yang lebih sehat melalui 5 pesan utama yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan secara menyeluruh.
1. Utamakan Konsumsi Real Food
Pedoman ini mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kualitas makanan dengan memilih real food, yaitu makanan yang diproses secara sederhana dengan hasil akhir masih mendekati bentuk aslinya, seperti karbohidrat utuh (whole grain), sayur, buah dan pangan segar (telur, ikan, dan daging). Real food umumnya kaya akan zat gizi dan bebas dari bahan pengawet/ bahan kimia lainnya.
2. Prioritaskan Protein Berkualitas di Setiap Waktu Makan
Bukan sekedar lebih banyak tapi lebih bijak memilih jenis protein dan metode memasak. Setiap kali makan dianjurkan mengandung protein baik dari sumber hewani (telur, seafood, daging) maupun nabati (kacang/ biji-bijian). Metode memasak yang dianjurkan adalah menumis, merebus atau memanggang, serta menghindari konsumsi daging olahan yang tinggi natrium dan bahan tambahan.
3. Pilih Lemak dari Sumber Alami
Lemak tetap dibutuhkan oleh tubuh, namun harus berasal dari sumber yang tepat. Lemak dapat diperoleh dari sumber hewani seperti daging, telur, ayam atau seafood yang tinggi omega 3, juga dapat diperoleh dari sumber nabati seperti kacang-kacangan, minyak zaitun, dan alpukat yang tinggi omega 6 dan omega 9. Penggunaan minyak goreng/ saturated fat tidak lebih dari 10% dari kebutuhan kalori harian.
4. Konsumsi Serat Setiap Hari
Serat berperan penting bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme. Asupan serat dapat dipenuhi dari sayur dan buah dengan beragam warna dan jenis. Pedoman ini menganjurkan konsumsi sayur dan buah dalam bentuk utuh dengan proses pengolahan minimal. Selain itu, makanan fermentasi juga dianjurkan untuk menjaga keseimbangkan mikrobiota di usus.
5. Batasi Konsumsi Ultra Process Food
Ultra process food merupakan makanan formulasi yang diproses secara industrial, mengandung bahan olahan karbohidrat, gula, serta bahan tambahan seperti pengawet, pengemulsi, dan lainnya. Contohnya seperti makanan kemasan: chiki, biskuit, permen yang tinggi gula dan natrium. Masyarakat dihimbau untuk lebih cermat membaca komposisi yang tertulis di kemasan karena gula sering ditulis dengan nama lain seperti sirup, dekstrosa, atau aspartam.
Apakah Indonesia perlu mengikuti American Dietary Guideline?
Indonesia dapat mengambil 5 pesan positif dari pedoman gizi amerika untuk dijadikan sebagai pelengkap dalam memperkuat penerapan Pedoman Gizi Seimbang yang telah diterapkan sejak 2014 melalui konsep “Isi Piringku”.
Pada praktiknya, tantangan terbesar di Indonesia masih terletak pada kondisi kesehatan yang beragam serta konsumsi karbohidrat berlebih, rendahnya asupan protein berkualitas, dan kurangnya konsumsi sayur dan buah. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi Pedoman Gizi Seimbang menjadi kunci suksesnya membentuk pola makan yang lebih sehat.
Rekomendasi Suplementasi
Apabila kebutuhan zat gizi belum dapat terpenuhi dari makanan maka suplementasi dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut terutama protein, serat, vitamin, dan asam lemak esensial yang berperan penting dalam menjaga metabolisme, imunitas, dan kesehatan kardiovaskular.
Nutrimax Albugamat mengandung ekstrak ikan gabus (Channa striata) dan teripang emas (Stichoupus hermanni) sebagai sumber protein untuk membantu meningkatkan fungsi fisiologis tubuh, meningkatkan sistem imunitas, serta mencegah komplikasi penyakit infeksi. Disarankan untuk lansia dan anak yang kekurangan asupan protein. Beli di sini.
Nutrimax Green Max mengandung kombinasi 2 superfood yaitu spirulina extract dan chlorella extract sebagai sumber serat untuk memenuhi kebutuhan serat harian serta mengandung berbagai macam zat gizi penting untuk menjaga kesehatan dan metabolisme tubuh, aman dikonsumsi semua usia sejak anak-anak sampai lansia termasuk ibu hamil dan menyusui. Beli di sini.
Nutrimax C+ Phytogreen mengandung Calcium Ascorbate (Vitamin C bebas asam) dilengkapi dengan phytogreen yang merupakan ekstrak sayuran brokoli, bayam, wortel, spirulina, chlorella, evening primrose oil, dan black currant seed untuk mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh sekaligus untuk melengkapi kebutuhan serat harian. Beli di sini.
Nutrimax Omega 3 Pro menggunakan Branded ingredient MEG-3 dari DSM. Sumber omega 3 yang paling terpercaya, menghasilkan omega 3 berkualitas tinggi, murni, dan sangat aman dikonsumsi. Diekstrak dari minyak ikan laut (termasuk anchovy dan sardine) yang telah diproses dengan teknologi “molecularly distilled fish oil” secara bertahap yaitu metode pemurnian untuk memastikan kandungan fish oil terbebas dari logam berat. Tiap softgel mengandung 1000 mg fish oil plus Natural Vitamin E untuk membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Beli di sini.
Nutrimax Omega Complex mengandung perpaduan asam lemak omega 3, omega 6, dan omega 9. Omega 3 menggunakan branded ingredient MEG-3 dari DSM dan KinOmega, serta omega 6 dan omega 9 bersumber dari flaxseed oil dan borage oil dilengkapi dengan Vitamin E untuk mendukung kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beli di sini.
Dengan pendekatan yang tepat dan disesuaikan dengan budaya makan masyarakat Indoensia, upaya perbaikan gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan individu tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa.
Sumber:
Athaya, Tsabita., 2025. Mengapa Masyarakat Indonesia Gemar Makan Nasi? - Link
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang.
Kementerian Kesehatan RI. 2023. Survei Kesehatan Indonesia Dalam Angka. Jonathan Q. an
Purnell, MD. 2023. Definition, Classification, and Epidemiology of Obesity - Link
United States Department of Agriculture. 2025. Dietary Guidelines For American 2025 - 2030
Walker, Courtney. 2015. The Effect of an American Diet on Health - Link